Buku Ajar Anti Korupsi (Mewujudkan Mahasiswa Sebagai Agent Of Change)

BUDAYA TIDAK JUJUR SEBAGAI MUARA PERILAKU KORUPSI

Korupsi sesungguhya hanya bagian hilirnya saja, muaranya sendiri merupakan perilaku tidak jujur (Abidin, Z., & Siswadi, G. P, 2015). Bisa dibayangkan, walaupun seseorang memiliki kesempatan dan kedudukan jika mereka berperilaku jujur maka mereka tidak akan mencari keuntungan pribadi atau kelompok dengan cara menyimpang.

Di Indonesia, ketidakjujuran telah merebak di mana-mana. Banyak contohnya, seperti ketika Ujian Nasional. Demi anak, orangtua ikut sibuk mencari bocoran soal juga menyogok. Ada bocoran pasti ada yang membocorkan. Ada yang menyogok pasti ada yang disogok. Tragisnya kasus di pendidikan, orang yang disogok tersebut adalah orang-orang yang harusnya menegakkan kejujuran. Perilaku menyontek apabila dilakukan sejak kecil tentu saja dapat berlangsung dalam bentuk lain di masa berikutnya termasuk perilaku koruptif.

Kita pun tahu bahwa untuk diterima dalam suatu pekerjaan banyak yang melakukan penyogokan. Suatu kejadian yang sering menjadi buah bibir masyarakat yaitu ketika dibukanya penerimaan CPNS. Walaupun pemerintah sudah semakin memperketat persyaratan dan pengawasan, dalam persepsi masyarakat tetap saja ada pandangan bahwa tanpa “nyogok” tidak mungkin seseorang bisa menjadi PNS. Konon, suatu sogokan yang diberikan sangat besar bahkan melebihi jumlah gaji yang akan diterima selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Besarnya sogokan pada akhirnya harus ditutupi dengan ketidakjujuran baru yaitu korupsi selama masa jabatan. Sungguh miris!

Urusan korupsi ini ternyata sudah ada hitungan matematisnya. Uang yang dikorupsi harus lebih besar daripada biaya kalau tertangkap. Hal tersebut untuk membayar ketidakjujuran penegak hukum, biaya hidup di “hotel”, dan biaya keluarga yang ditinggalkan. Hebatnya lagi, uang korupsi tersebut digunakan pula oleh si pelaku untuk naik haji atau membangun tempat peribadatan. Karena hitungan matematisnya berupa uang, maka urusan malu sudah tidak diperhitungkan lagi. Beberapa kasus menunjukkan bahwa korupsi bisa dilakukan bahu-membahu oleh satu keluarga.

Sebagai sesuatu yang muncul ke permukaan, ketidakujuran ini bisa jadi telah menjadi nilai hidup masyarakat banyak. Jika mau mengingat kasus Saimi, seorang ibu yang melaporkan kecurangan ujian negara pada tahun 2012. Beliau justru diusir dari wilayahnya, dimusuhi oleh pihak sekolah, guru anaknya, tetangga, dan orang tua murid lainnya. Karena hal tersebut sudah menjadi suatu hal yang tidak tabu lagi, banyak yang berkata, “ jangan melawan arus, nanti kamu sendiri yang tergerus”. Kasus tersebut menunjukkan bahwa melawan korupsi bukan hanya melelahkan tetapi juga membahayakan. Sikap hidup dan pembiaran oleh masyarakat menunjukkan bahwa jangan-jangan ketidakjujuran itu sudah menjadi budaya.

Bukan hanya budaya, agama pun yang menjadi pedoman hidup ternyata tidak berdaya. Masih ingatkah dengan kasus Nazarudin? Ketika ditangkap ternyata dia sedang berpuasa. Ketika berpuasa, seseorang seharusnya takut berbuat negatif. Realitasnya keberadaan Tuhan ini selalu sebatas pada saat ibadah bersifat ritual tetapi untuk hal lain seperti harus jujur atau tidak korupsi, Tuhan seperti dianggap “absen dari pengawasan”.

Judul: Buku ajar anti korupsi mewujudkan mahasiswa untuk menjadi the agent of change
Penerbit: Universitas Mahendradatta
Pengarang: penulis, Mardiki Supriadi…[et al.]
Tahun: 2019
Received: –
Seri: –
ISBN: 978-602-14247-5-9
Website: www.universitasmahendradatta.ac.id
Email: wirawedha@gmail.com

 [Download Buku]